~ fitria ~

hanya sekumpulan tulisan biasa, dari orang biasa yang sedang belajar memaknai hidup, menikmatinya, dan mengisinya dengan baik...

Thursday, February 22, 2007

Tentang Memperpanjang SIM

Mungkin udah banyak yang tau, khususnya buat yang pernah bikin atau memperpanjang SIM. Meski ini sepertinya telah menjadi rahasia umum, hanya saja aku baru mengetahui detail prosesnya. Sekitar 2 minggu yang lalu, sempet nemenin temen memperpanjang SIM di salah satu kabupaten di kota Bandung. Gedung Polres di tempat itu emang lumayan bagus, ditambah ada masjid yang cukup besar di sampingnya. Pertama menginjakkan kaki ke salah satu area pelataran, tiba2 sekumpulan polisi berteriak.

”Mbak...mbak...jangan lewat situ, lewat pintu sebelah sana ”, katanya sambil menunjuk salah satu pintu.

Huh, dasar feodal. Apa susahnya sih memperbolehkan lewat area itu. Toh tempatnya luas, dan gak ada sesuatu barangpun yang mengancam keselamatan jiwa (standar alasan utama kenapa peraturan penggunaan laboratorium sangat ketat). Entahlah, mungkin aku tak tau alasannya.

Memasuki area Polres, banyak sekali antrian, entah bikin SKKB juga termasuk bikin SIM. Beberapa langkah memasuki pelataran, ada beberapa polisi yang lagi nongkrong menawari kami bantuan. Hmm.. boleh juga bantuannya. Cuman kami cuekin aja, selama masih ada jalur/loket yang jelas, datengin aja tempatnya lansung. Karena kami masih baru, khawatirnya mereka adalah sekumpulan ”mafia” kepolisian yang kerap memanfaatkan warga negaranya yang benar2 membutuhkan. Bukannya suudhzon, jaman sekarang (di tengah tuntutan ekonomi tinggi), sedikit sekali pejabat/karyawan publik khususnya yang berhubungan dengan birokrasi mau menawarkan bantuan tanpa pamrih. Aku inget pernah membatalkan rencana bikin KTP Bandung hanya karna pegawai kantor kecamatan meminta 160ribu untuk administrasi. Hah?? Bukannya kalo ada surat keterangan pindah, bikin KTP tuh gratis. Kalopun ada uang administrasi, apakah semahal itu? Susah amat sih jadi warga negara yang baik, kalo mo bikin KTP aja harus bayar semahal itu.

Kembali ke masalah SIM. Setelah ngisi formulir dan cap jari, kami memasuki loket pembuatan SIM. Loketnya ada VI. Kalo gak salah, begini susunannya :
Loket I : penyerahan formulir
Loket II : .......... (lupa)
Loket III : ujian tulis
Loket IV : ujian praktek
Loket V : Foto
Loket VI : pembayaran dan penyerahan SIM
(tulisan tepatnya mungkin gak seperti itu, tapi begitulah kira2 fungsinya)

Dari kaca jendela loket, kami melihat ada tulisan yang diprint di kertas A4 dengan format landscape yang kira2 gini tulisannya :

”Hati-hati dengan calo SIM, Buatlah SIM menggunakan jalur yang benar. Pembuatan SIM Rp 75.000 dan perpanjangan SIM Rp 70.000.”

Hmm.. aku berpikir udah ada itikad baik lah dengan memasang pengumuman ini walaupun kecil sekali.

Selama proses antrian berjalan, kok serasa ada yang janggal ya. Kami yang datang duluan gak dipanggil2 buat tes tulis. Sementara orang2 yang datangnya lebih akhir, udah lebih duluan dapat giliran tes tulis. Sejak awal, daripada bengong gak ada kerjaan, aku gunakan parameter loket I (penyerahan formulir) untuk mengidentifikasi siapa yag duluan, siapa yang akhir dan aku hafalin mukanya. Ternyata kejanggalan benar2 terjadi. Temanku yang menyerahkan formulir dari pagi, udah banyak didahului orang2 yang menyerahkan formulirnya belakangan. Dan ketika temen mendapat giliran tes tulis, fiuuh.. bukan main anehnya tuh soal. Kebanyakan soalnya ambigu dimana harus dibaca berkali-kali dan benar2 teliti agak gak kejebak. Aku jadi terfikir, gimana dengan bapak2 yang mungkin tamatan SD atopun sopir angkot yang gak sempat menempuh pendidikan lebih tinggi. Udah bisa ditebak, dari tujuh peserta tes (shift tesnya temenku), cuman satu yang lolos. Temenku salah satu yang gak lolos (kurang satu, 21 harus benar dari 30 soal). Hmm.. terpaksa deh, 2 minggu lagi harus balik kesini buat tes ulang. Setelah gagal tes tulis, kami ketemu ama temen lain yang juga lagi bikin SIM. Kami sempet sharing, ternyata dia salah seorang yang termasuk mendapatkan SIM dengan cara cepat (tanpa melewati loket III dan IV).

Kami sempet ngobrol bentar, dan setelah diliat emang ada simbiosis yang gak jelas disana. Mereka memasang pengumuman agar hati2 ama calo, namun ternyata dalam prosesnya justru yang dari calolah yang didahulukan. Itupun tanpa melewati tes tulis dan praktik (kesaksian dari temen yang menggunakan cara cepat). Prioritas antrian udah gak jelas. Dengan ujian tulis yang terkesan dipersulit itu, tentu saja orang akan lebih memilih mendapatkan SIM dengan cara cepat di tengah banyaknya aktivitas (bolos narik angkot, kerja, kuliah, atopun sekolah). Emang aneh, peringatan dibuat, namun dalam prosesnya, sistem dibuat untuk melanggar peringatan. Sebagai akibatnya, yang seharusnya belum punya hak untuk memiliki SIM, akan mudah mendapatkannya karena seleksi yang gak ketat. Jangan heran jika jumlah kecelakaan terus meningkat karena mereka2 yang gak tahu aturan berlalu lintas.

Dua minggu setelah itu, temenku bilang, kalo ternyata gak ada tes tulis ulangan. Sesuai instruksi Kapolres, diganti dengan membayar Rp 50ribu tiap SIM, kata si Bapak pegawainya. Fiuuh.. udah gak konsisten lagi dengan Rp 70ribu untuk pembuatan SIM lewat ”jalur bersih”.

Satu kasus ini membuat diriku makin skeptis dengan dunia peradilan (kepolisian, kejaksaan, dll), jika area itu masih diisi oknum tak bertanggung jawab dan mereka survive disana laksana rezim. Masih teringat ketika aku dimarahi Kajati Jabar yang tersinggung karena statement2nya aku tanggapin dengan senyum sinis.

2 Comments:

Anonymous nrkhlsmjd said...

aku juga ngalamin hal yg sama minggu kemaren....
sial bgt aku cuma betul 16 dari 30 soal...
dan terpaksa balik 2 minggu lagi....

secara logika...emang gak mungkin bapak2 sopir itu bisa dapat sim dg mudah tapi...whateverlah...

Saturday, April 21, 2007 5:32:00 PM  
Anonymous pupuk organik said...

pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik

Tuesday, July 06, 2010 12:48:00 PM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home