~ fitria ~

hanya sekumpulan tulisan biasa, dari orang biasa yang sedang belajar memaknai hidup, menikmatinya, dan mengisinya dengan baik...

Monday, December 25, 2006

Catatan Akhir Tahun

Hari minggu memang hari yang asik buat jalan2. Kebetulan tiba2 ada temen yang ngajak ke factory outlet. Dia mau nyari sweater buat suaminya yang akan pergi melanjutkan S3 di UTD (University of Texas at Dallas). Kabarnya, temperatur di Dallas mencapai -5 oC. Bisa dibayangkanlah kira2 seperti apa dinginnya. Sesampainya di Dago, kami berkeliling dari FO ke FO. Bukan barang yang tertata di FO yang menarik perhatianku, namun para konsumen yang sedang meramaikannya, dengan segala tingkah lakunya. Dari area parkir, sudah bisa ditebak bahwa mayoritas kendaraan yang parkir bernomor polisi B. Benar2 suasana yang amat kontroversial untuk sebuah negara Indonesia yang konon sedang diisukan mengalami krisis moneter. Sebuah negara yang katanya sedang mengalami inflasi besar2an, juga hutang luar negeri yang menumpuk. Depresiasi mata uangnya yang tergolong sangat tinggi, sekitar 600 % pasca tahun 1997, ternyata tak mempengaruhi tingkat konsumsi para penduduknya.

Beberapa hari sebelumnya, sempet nemenin Citra ke BEC nyari HP CDMA. Untungnya gak terlalu ribet. Satu counter kami tuju dan langsung cocok dengan barangnya. Harganya pun tergolong miring. Dan baru beberapa hari sebelumnya baca tabloid PULSA di rumah temen, yang mengumumkan keluarnya 12 produk HP terbaru yang masuk pasaran, kami menemukan beberapa counternya secara khusus telah ada di BEC. Dan itupun langsung diserbu para pembelinya. Fiuuh... semakin menunjukkan kalo definisi krisis moneter haruslah dikalibrasi. Tingkat fleksibilitasnya pun perlu diperhitungkan.

Beberapa kali nonton berita, sempat bikin geram. Gimana nggak, harga beras kian naik dan kenaikannya sangatlah tidak wajar. Dengan rentang harga antara 5.300 – 6.000 rupiah, tanpa dipikir terlalu rumit pake logikapun, sudah barang tentu orang2 yang penghasilannya 10-20 ribu rupiah per hari bakal kesusahan cari makan. Busyet dah. Mau makan pake ubi ? Emangnya kampung Nyak Babe gue yang bisa makan ubi kagak usah beli pake duit, tinggal ngambil di kebun. Bisa ditebak bagaimana kelangsungan hidup seorang tukang becak, pemulung, yang penghasilannya tidak menentu, atau para korban PHK yang akhirnya bekerja serabutan, sementara mereka punya tanggungan anak yang banyak.

Seperti sebuah senandung lagu pop Jawa, bahwa sekarang adalah jaman edan. Demi materi, orang bisa melakukan banyak hal tak terduga, mulai dari rebutan warisan hingga perselisihan antar saudara juga kerabat. Makanya tak heran, jika tayangan semisal Buser, Sergap, dan sejenisnya tak pernah kehabisan berita. Kalo dilihat pun ternyata pelaku banyakan orang terdekat juga. Sebuah permasalahan moral klasik yang umumnya terjadi pada komunitas kaum marginal yang tak terurus dan tersentuh hingga kian hari kian meningkat tingkat kebrutalannya.

Kontroversi lainnya yang terjadi di jaman edan yang katanya lagi krismon ini adalah dengan mudahnya uang terbelanjakan, juga kartu debet dan kartu kredit tergesek hanya untuk sebuah barang yang mungkin tidak tergolong penting secara kegunaan. Meski bukan berarti hal ini salah lho. Sah2 saja, karna uang itu adalah uangnya, dan dia pun mendapatkannya dengan berusaha. Yang saya permasalahkan disini adalah mentalitasnya. Sebuah mentalitas konsumtif yang berlebihan. Ketika sebuah produk baru muncul, dengan mudahnya produk tersebut diserbu karena trend, gengsi, serta tuntutan life style yang tinggi. Sementara itu, seleksi alam akan mengikis produk lama karena dianggap ketinggalan jaman.

Ketika main ke rumah temen, sempet nonton film action. I have no choice, karena channel lainnya menayangkan sinetron dan tayangan hantu. Seorang pimpinan geng mafia (bisa dibayangkan lah kayanya seorang pimpinan mafia besar), tetap mengendarai mobil buatan dalam negeri yang kalo dilihat sekilas performance luarnya memang kurang bagus dan gak akan laku dijual di Indonesia. Hanya saja, untuk kota Hongkong bisa sedikit memberi gambaran bahwa, seorang milyuner mafia yang hitam pun tetap tidak mempedulikan gengsi, trend, ataupun life style yang tinggi untuk sebuah mobil.

Meski tidak dominan, konon mentalitas adalah kultur, karena telah diwariskan sejak jaman kompeni. Sejarah telah menunjukkan bagaimana para pemuka adat kerap menjilat para penjajah hanya demi kenyamanan dan kesejahteraan semu. Dari beberapa isu yang berkembang, konon lagi (silakan dikaji kebenarannya), bahwa kenaikan harga beras dalam negeri untuk menaikkan pamor beras impor agar mudah diperdagangkan di dalam negeri. Jika benar, mentalitas terjajah dari para pengambil kebijakan kian memperpuruk kaum marginal yang masih dominan di negeri ini. Fiuuh... memang Indonesia adalah pangsa pasar strategis sejak jaman penjajahan.

Lengkaplah sudah, bangsa ini akan terus terkungkung dalam bentuk penjajahan model baru (neokolonialisme). Mentalitas konsumtif yang berlebihan akan semakin melanggengkan eksistensi produk asing ketimbang produk domestik. Sementara itu, mentalitas terjajah akan mendukung dengan munculnya berbagai kebijakan untuk memuluskan jalan masuknya produk asing hingga produk domestik akan tergencet.
Wallahu a'lam bishshawab

5 Comments:

Blogger shild@ said...

hidup teh pipit!!!
gw sepakat banget...masa' baru kemarin gw beli beras 6300an...(katanya yang beras pegawai negeri 4500an...)huaaaa
btw, nonton mafia ama baca PULSAnya dimana tuh :p

Wednesday, December 27, 2006 10:11:00 AM  
Blogger wiyono said...

kenaikan beras itu cuman akal-akalan pemerintah untuk pembenaran impor beras. bayangkan petani kita nantinya...

Tuesday, January 02, 2007 4:48:00 PM  
Blogger Galuh Syahbana I said...

Kata Ahmad Thahari (dalam bahasa saya):
..... jikalau demikian maka perkataan Karl Marx: "Wahai kaum buruh bergeraklah" telah menjadi usang diganti dengan "Wahai manusia berempatilah". Btw, yang komen beras di atas, sy kurang sepakat dilihat dari sudut makro ekonomi dan komunikasi publik. Ga apa ya Wiy =)

Thursday, January 04, 2007 5:41:00 PM  
Blogger Pipit said...

#silda
kalo beras mahal,lo msh bs cari substitusinya kan Da,bahkan yg lebih mahal sekalipun..:p

#wiyono
hmmm...makanya itu,silakan dikaji kebenarannya..:D

#galuh
sepakat!! dengan kata empati...

Saturday, January 06, 2007 4:38:00 PM  
Anonymous Wawan said...

Mbak Pipit yang baik,

Perkenalkan, saya Wawan, di Malang. Waktu cari mahasiswa indonesia yang kuliah di Dallas, utamanya University of Texas at Dalas, saya sampai ke blog Mbak Pipit ini. Saya sendiri juga baru diterima di universitas itu dan pingin sekali berhubungan (tanya-tanya) orang Indonesia yang kuliah di situ. Sejauh ini belum nemu sama sekali. Nah, mengetahui suami temannya Mbak Pipit yang kuliah di situ, saya ingin memohon bantuan Mbak untuk menghubungkan saya dengan Bapak yang dimaksud. Jika tidak keberatan, mohon hubungi secara japri ke imel saya di green_stranger[at]yahoo.com. terima kasih sebelumnya. Maaf merepotkan. Salam.

Monday, May 05, 2008 12:32:00 PM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home