~ fitria ~

hanya sekumpulan tulisan biasa, dari orang biasa yang sedang belajar memaknai hidup, menikmatinya, dan mengisinya dengan baik...

Thursday, January 24, 2008

Bulan dan Bintang

Kesedihan Rembulan

Bulan yang datang malam ini sangat sepi
Bahkan tidak ada satu suarapun untuk didengar
Tidak juga daun yang bergesek atau desahan gundah
Semuanya hening dalam hati masing-masing
Yang tinggal adalah wajah-wajah tergurat

Manusia hanya gantungkan asa pada keberkahan langit
Padahal malam ini rumput pun tak menerima sesuap sinar
Semuanya hanya bersandar pada udara

Bulan ini sangat sepi
Tak ada tapak yang tercatat
Hati yang cemas tak temukan pelabuhan
Ketika semuanya tak ada
maka menjadi sepi

Kemana akan bicara wahai bulan yang sepi
yang bercermin di danau patah asa
Apakah dunia sudah semakin acuh
Atau aku hanya meratap
kepedihan sesaat yang hilang…


Kebahagiaan Bintang

Bintang malam ini sangat cemerlang
Tiada pernah takut pada kesedihan
dan kegelapan yang datang menimpa diri

Kecemerlangan bintang kan bertambah indah
Bila sang rembulan ikut bersinar terang
Bersama-sama menyinari gelapnya malam
yang sunyi lagi sepi…

Tuesday, August 07, 2007

Tidak

Tidak, Anda tidak akan menghabiskan usia Anda untuk hal-hal yang sepele, seperti suka mengadakan pembalasan dan berdebat tentang hal yang tidak mengandung kebaikan.

Tidak, Anda tidak akan menghasilkan uang dan menghimpunnya dengan mengorbankan kesehatan, kebahagiaan, tidur, dan ketenangan Anda.

Tidak, Anda tidak akan mencari-cari kesalahan orang lain, mengumpat mereka, dan melupakan kekurangan yang ada pada diri-sendiri.

Tidak, Anda tidak akan membenamkan diri ke dalam kesenangan hawa nafsu dan mengumbar segala sesuatu yang disukai dan diinginkannya.

Tidak, Anda tidak akan menyia-nyiakan waktu bersama dengan orang-orang pengangguran dan membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia.

Tidak, Anda tidak akan menelantarkan kesehatan fisik, kebersihan rumah, aroma yang harum, dan kerapihan semuanya.

Tidak, Anda tidak akan meneguk berbagai minuman yang diharamkan, merokok, candu, dan semua kebiasaan yang buruk.

Tidak, Anda tidak akan mengingat musibah yang telah berlalu, bencana yang sudah silam, atau kekeliruan yang pernah dialami.

Tidak, Anda tidak akan melupakan akhirat, beramal untuk menyambutnya, dan lalai terhadap adegan-adegan yang akan terjadi di dalamnya.

Tidak, Anda tidak akan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang diharamkan, berfoya-foya untuk hal-hal yang dibolehkan, dan melupakan ketaatan.

(Dikutip dari buku Laa Tahzan)

Thursday, July 19, 2007

Wawasan Kebangsaan

Kira-kira sebulan yang lalu aku mengikuti seminar yang diadakan oleh rektorat. Bukan seminar sih, tepatnya ceramah umum tentang wawasan kebangsaan yang langsung diisi oleh kepala staf TNI AD, Jenderal Djoko Santoso. Iseng-iseng penasaran juga, selama ini belum pernah dengerin militer berpidato kecuali presiden yang mantan militer, itupun dari tivi. Hanya ingin tau bagaimana paradigma berfikir militer tentang kebangsaan yang konon katanya adalah kalangan paling nasionalis di negeri ini.

Memasuki area kampus, dari gerbang depan sudah nampak nuansa hijau yang dimulai dari terlihatnya truk2 army, diikuti dengan para pengawal berseragam hijau. Hmm.. semuanya tampak formal. Juga ketika memasuki aula barat, terlihat banyak sekali para jenderal dan perwira di bagian kursi depan. Memasuki acara, dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, mulai terlihat bedanya jika lagu ini dinyanyikan kalangan sipil dan militer (mungkin juga terlalu menggeneralisir). Kalangan berseragam hijau itu khidmat sekali dan nampak hapal diluar kepala. Sedangkan aku? Harus terus menatap slide karna banyak lirik yang sudah lupa.

Beberapa istilah menarik yang saya dapat dari ceramah ini:
Sleeping giant
Suatu negara yang besar dengan kekayaan alam yang melimpah, tetapi tidak menunjukkan eksistensinya secara proporsional sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Contoh kasusnya adalah negara kita sendiri, Indonesia.

The sick man of Asia
Gambaran sebuah negara yang “pernah jaya” tetapi kemudian menjadi miskin dan berada di ambang disintegrasi. Contoh kasusnya adalah negara Turki di tengah kawasan Asia yang maju.

Dalam ceramah tersebut, diungkapkan pula fakta bahwa pada tahun 1966 sampai dengan 1996, pertumbuhan GDP Indonesia mencapai 7 persen, ekspor meningkat dengan tajam, serta kontribusi manufaktur dalam GDP meningkat dari 9 persen menjadi 25 persen. Hal ini menunjukkan bahwa secara absolut nilai ekspor produk manufaktur Indonesia telah melampaui India. Selain itu, pendapatan per kapita penduduk Indonesia meningkat sebanyak tiga kali lipat, dengan distribusi yang relatif merata antara sektor perkotaan dan pedesaan.

Hanya saja, pertumbuhan ekonomi pada masa ini keropos karena tercemar oleh dua hal yang sangat signifikan, yaitu korupsi yang melembaga hingga melahirkan ekonomi biaya tinggi, serta ketidakpastian hukum dan penegakannya, termasuk di dalamnya penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kedua faktor inilah yang memiliki pengaruh besar dalam menjatuhkan pemerintah Orde Baru yang pada tahun 1998 diterjang badai krisis moneter.

Dapat disimpulkan bahwa, erosi nasionalisme Indonesia disebabkan karena benerapa faktor, pertama karena rendahnya kualitas SDM. Hal ini karena kurangnya pemimpin yang kuat dan mampu menginspirasi para anggotanya agar bersedia memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya, serta kualitas sektor pendidikan yang jauh tertinggal. Kedua adalah masalah militansi bangsa, dimana militansi itu sendiri adalah semangat yang tinggi atau keteguhan untuk berjuang menghadapi kesulitan, dan secara psikologis terkait di dalamnya faktor motivasi yang sangat kuat. Dan yang ketiga adalah jati diri yang masih labil. Hal ini membuat bangsa Indonesia dianggap sebagai bangsa yang masih dalam proses pencarian jati diri (a nation in waiting).

Berbagai solusi ditawarkan, hanya saja akan panjang kalau dibahas disini. Saya pikir tiap orang yang mempunyai cita-cita dan partisi dari bangsanya paham tentang apa yang harus dan akan dilakukannya. Banyak hal yang sebenarnya saya tidak sepakat dengan pak Jenderal, seperti misalnya tentang nilai-nilai, konsensus dan falsafah dasar Pancasila. Namun, secara umum saya banyak mendapatkan hal menarik dan baru dari ceramah tersebut. Cerita-cerita tentang pengalaman ketika berurusan dengan masalah sengketa teritorial, yang notabene banyak melibatkan sikap nasionalisme, illegal logging, masuknya kapal asing ke perairan Indonesia secara ilegal, campur tangan pihak asing di beberapa daerah konflik di Indonesia, dll. Juga tentang hal-hal yang untuk ukuran rata-rata manusia normal mungkin tergolong illogical, seperti tingkat kepatuhan yang tinggi akan perintah komandan (tanpa interupsi), kesiapan untuk mati kapanpun dimanapun (maksudnya siap untuk “diatur” jadwal matinya), dll. Hal yang menarik lagi, mereka hafal di luar kepala tentang sejarah bangsa Indonesia mulai dari masa-masa kerajaan Jawa dst. Setidaknya cukup memperluas cakrawala tentang pola berfikir militer dan tindakannya, juga tingkat kedisiplinan mereka yang luar biasa.

Masa Lalu

Apa yang manusia pahami tentang masa lalu?
Bagaimana manusia mensikapi masa lalu?
Akankah masa lalu ditinggalkan begitu saja?
Atau haruskah masa lalu disesali?
Ditangisi dan diharapkan datang kembali untuk kemudian diubahnya?
Atau seperti petuah orang bijak :
Dijadikannya pelajaran berharga untuk memperbaiki kehidupannya
Yah…. roda zaman terus berputar, dan akan terus berputar
Tiap manusia telah diatur jalan hidupnya masing-masing
Hingga denyut nadi dan desahan nafas berhenti mengakhiri segalanya
Dan segala penyesalan benar-benar tiada guna
Kecuali segala amal perbuatan baik yang akan menyelamatkannya
Pada terminal pemberhentian akhir sebuah kehidupan
Kehidupan abadi yang bebas dari segala bentuk kesemuan

Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tidak akan pergi menangisi kepergianmu dan tidak akan termenung sedetikpun untuk mengingatmu. Pergilah… (La Tahzan)

Janganlah kalian putus harapan, karena putus harapan bukanlah akhlak Islam. Apa yang kini terjadi adalah impian kemarin, impian sekarang adalah kenyataan hari esok. Sementara itu, orang-orang lemah tetap lemah sepanjang hidupnya, dan orang kuat tidak akan abadi dengan kekuatannya-untuk selama-lamanya. Sejarah akan mencatat kejadian-kejadian besar. Kesempatan untuk berkarya besar masih banyak. “Dan demikianlah hari-hari kami gantikan antara manusia. (Arrasail)

Belajar Memasak

Termenung di depan tivi
Nonton Aroma, Gula-Gula, Bango, dst
Acara masak-memasak yang dipandu chef xxx, chef yyy, chef zzz, dst
Menekuni buku-buku resep masakan
Sejenak terpikir : “Alah, gampang deh masak ini”
Ketika dicoba
Huaaa… bumbunya kebanyakan, keasinan, kepedesan, gosong, dll
Stres bekerja dengan dua tangan dan satu otak mencampuradukkan bahan-bahan yang ada
Dan telepon berdering :
“Gimana Non? Udah bisa masak belum?” (pasang muka senyum-senyum entah keramahan atau ejekan)
“Iya, ini juga lagi belajar”, jawabku
“Masak apa? Ngerebus air ya? Bikin mie instant? Goreng telur? Ato bikin nasi goreng?” (disertai tawa terbahak-bahak penuh kepuasan)
Fiuuh… bukannya mendukung ato nyemangatin.

Wednesday, May 23, 2007

Hmm...

Hmm... kayaknya ini blog dah lama sekali dianggurin. Lagi males nulis... Maap buat para pengunjung yang gak sengaja mampir ke blog ini..:p

Wednesday, March 21, 2007

Oh Jakarta...

Fiuuuh... udah semingguan ini migrasi ke jakarta, memenuhi panggilan kerja, alah. Selama seminggu ini sebenernya belum banyak sisi management yang aku ketahui. Aku baru belajar sisi technical saja. Coz sebenernya kerjaanku ini banyak berhubungan dengan bidangnya anak2 minyak, jadi ya masih harus banyak belajar juga. Kalo selama ini tahunya alat2 pengolahan minyak di bagian surface, esp. buat proses pengilangan, kali ini harus belajar juga tentang alat2 minyak di bagian downhole (esp. downhole jet pump).

Yup… welcome to the jungle. Sampai saat ini aku masih menemukan terlalu banyak sisi keegoisan manusia. Bagaimana orang berebut naik transjakarta, dengan memalangkan tangannya di gerbang halte hingga menghalangi lainnya. Bagaimana orang mengumpat dengan bahasa sarkas (emang ada ya ngumpat pake bahasa halus? :p), dan sepertinya susah sekali mengucapkan kata ”maaf” setelah sadar tanpa sengaja nginjek kaki orang (aaaarrrrgggh...emang gampang apa nyuci kaos kaki). Tapi kalo inget akan materi emotional intelligent, ”Pipit, sebelum kamu marah, pikirkan dulu konsekuensi ketika kamu marah”. Akhirnya ya sudahlah, toh dia juga gak sengaja.

Selain itu, penerapan safety rendah sekali. Ngeri aja tiap hari harus menyaksikan bagaimana orang berebut naik bis kota yang sesak sampai ke pintu. Bagaimana para penumpang dinaikkan dan diturunkan di tengah jalan dalam kondisi kendaraan masih melaju. Ato menyaksikan ibu-ibu berlari memburu bis kota yang sedang melaju kencang. Oh my God, it's real world.

Masih teringat sms2 temenku ketika mereka tau aku migrasi ke jakarta. Juga dari mbak Ayud (sepupuku) yang sudah duluan di jakarta.
”Dek Pipit, moga kerasan ya hidup di jakarta yang semakin sumpek ini... ”